Antara Syukur Dan Kufur

Oleh : Oktarizal Rais

Nikmat yang manakah lagi yang akan kau dustai
Setelah begitu banyak nikmat yang Dia beri
Nikmat yang manakah lagi yang akan kau ingkari
Setelah sekian luas kasih yang Dia beri
Seharusnya itu kau renung
i… (Justice Voice)

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Jika manusia mau sedikit merenung dan berpikir lebih dalam, maka manusia akan menemukan sebuah kenyataan bahwa Allah SWT lebih banyak memberi mereka nikmat dibandingkan cobaan, penderitaan, kesulitan, dan sejenisnya yang manusia anggap sebagai sesuatu yang tidak enak atau tidak nyaman. Allah SWT berfirman:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allâh, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allâh)”. (QS Ibrahim: 34)

Maka, jikalau manusia mengingat dan mencoba menghitung nikmat Allah SWT, niscaya manusia tidak pernah mampu berhenti untuk mensyukuri nikmat Allah yang telah Allah berikan. Seluruh tumbuhan dan air lautan dijadikan sebagai pena dan tinta tidak akan cukup untuk menulis nikmat Allah. Sepanjang umur manusia seharusnya dipenuhi dengan rasa syukur, bahkan mungkin seluruh umur manusia tidak akan cukup untuk mensyukuri nikmat Allah yang sangat banyak.

Pernahkah manusia menanyakan harga Oksigen di Apotik? Jika belum tahu, harganya ± Rp 25.000/ltr. Pernahkah manusia menanyakan harga Nitrogen di apotik? Jika belum tahu, harganya ± Rp 9.950/ltr. Tahukah, bahwa dalam sehari manusia menghirup 2880 ltr Oksigen & 11.376 ltr Nitrogen. Jika harus dihargai dengan rupiah, maka Oksigen & Nitrogen yang kita hirup, akan mencapai kisaran ± Rp170.000.000  / hari / manusia. Jika kita hitung kebutuhan manusia sehari (untuk bernafas saja) Rp. 170 jt, maka sebulan Rp. 5,1M / orang.

Baca lebih lanjut

Realita Pahit Praktek Ribawi

Sudah dimaklumi dalam syari’at islam bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan, namun ironisnya didapatkan banyak sekali kaum muslimin menggandrunginya. Bahkan kita dapati jaringan ribawi ini telah tersebar dalam kehidupan masyarakat umum seperti tersebarnya pembuluh darah dalam tubuh manusia sehingga merusak tatanan masyarakat islam dan merusak keindahan islam dimata pemeluknya. Tidak hanya sebatas ini saja bahkan banyak kaum muslimin berkeyakinan dan memandang praktek ribawi adalah satu-satunya cara menumbuhkan perekonomian Negara dan masyarakatnya. Demikianlah sisa implikasi buruk penjajahan yang telah menanamkan ke dalam Negara jajahannya muamalah ribawiyah ini, sebab system ribawi ini masuk ke dalam Negara-negara islam melalui tangan dan jerih payah mereka.

Kaum muslimin akhirnya mengimport system ini dari Negara kafir yang menjajahnya baik Negara barat atau timur dan melupakan system perekonomian islam. Hendaknya mereka mengetahui bahwa Negara kafir tidak pernah peduli pada pertumbuhan keagamaan dan memisah agama dari kehidupan ekonomi. Sebab mereka tidak memiliki timbangan akhlak bahkan yang kuat dan kayalah yang akan berkuasa walaupun mereka mendapatkannya dengan bantuan orang-orang fakir dan miskin. Sedangkan islam menginginkan satu system ekonomi yang adil sehingga yang kuat tidak menindas yang lemah dan yang kaya menjajah yang miskin. Juga agar harta tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja sehingga menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Allah berfirman,

وأحل الله البيع وحرم الربا (البقرة : 275)

“Dan Allah telah menhalalkan jual beli dan mengharamkan Riba. (QS. 2:275)
Baca lebih lanjut

MTs Maraqitta’limat Lenggorong Tingkatkan Sumber Daya Dan Keterampilan Siswa

Lombok Utara, yamtia – Madrasah Tsnawiyah Maraqitta’limat (MTs-MT) Dusun Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara merupakan salah satu lembaga pendidikan keagamaan yang memadukan kurikulum Departemen Agama dan Pendidikan Kebudayaan, yang tujuannya untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan keterampilan siswa.

Pendirian MTs-MT diawali dengan pendirian sebuah Madrasah Diniyah Maraqitta’limat Lenggorong sekitar tahun 1997 yang dirintis oleh para tokoh agama setempat yang semuanya sudah menjadi almarhum. Tokoh dimaksud antara lain, A. Burhan, A. Ziadi, Ustadz mamnun, H. As’ad, A. Imran serta beberapa tokoh lainnya.

Semua tokoh ini berasal dari berbagai desa di Kabupaten Lombok Timur, yang melakukan transmigrasi ke Dusun Lenggorong pada tahun 1984. Mereka semua bekerja sebagai petani dan buruh tani. Mengingat pada saat itu, belum ada sekolah dan tempat mengajar anak-anak mengaji, puluhan tokoh ini berinisiatif mendirikan sebuah lembaga pendidikan berupa Madrasah Diniyah yang diresmikan langsung oleh pimpinan pusat yayasan Maraqitta’limat, TGH. Hazmi Hamzar.

Sayang, ketika diniyah ini mengalami kemajuan dan perkembangan yang cukup pesat, para pendirinya-pun satu persatu kembali kehadapan Allah SWT. Keendati demikian, generasi penerusnya tak mau kalah dalam berjuang. Mereka terus berupaya mengabadikan amal jariah para pendahulunya dengan meningkatkan pembangun diniayah yang semua beratap daun rumbia dan berpagar kayu menjadi sebuah bangunan yang permanen, yang sekarang ini selain sebagai tempat anak-anak belajar ilmu agama juga dimamfaatkan sebagai tempan Pendidikan Anah Usia Dini (PAUD).

Baca lebih lanjut