SMK Maraqitta’limat Praktek Kerja Lapangan Di Kebun Percobaan Sandubaya

Untuk kedua kalinya sebanyak 16 orang siswa Sekolah Menengah Kejuruan Maraqit Ta’limat (SMK MT) Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Kebun Percobaan Sandubaya selama 3 bulan. Tahun 2010 SMK-MT juga melaksanakan hal yang sama di Kebun BPTP NTB.

Menurut Yahmin selaku penanggung jawab visitor plot lahan kering KP. Sandubaya, para siswa yang melaksanakan praktek dilibatkan dalam usahatani lahan kering sesuai kalender kegiatan yang ada di kebun Sandubaya. Saat ini aktivitas di kebun Sandubaya adalah perawatan tanaman jagung dalam fase generatif 70 hari setelah tanam. Direncanakan awal bulan Maret 2011 aktivitas KP. Sandubaya difokuskan pada penanaman kacang tanah, pemeliharaan dan penggemukan kambing. Untuk menunjang aktivtas para siswa, Kepala Kebun Sandubaya, Suparjan, mengatakan para siswa disediakan tempat pemondokan yang sederhana di Mess KP. Sandubaya.

Untuk lebih terarahnya pelaksanaan di lapangan siswa yang mengikuti PKL ini akan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Kelompok Tanaman dan Peternakan. Setiap kelompok dibimbing oleh seorang teknisi. Materi yang diberikan disesuaikan dengan aktivitas-aktivitas pada masing-masing kegiatan. Setiap dua minggu siswa akan dipindahkan ke kelompok lainnya sehingga seluruh siswa mengetahui dan memahami banyak hal. Secara garis besar siswa akan di perkenalkan dengan proses budidaya jagung, kacang tanah dan pemeliharaan ternak kambing, teknologi pembuatan kompos dan lain-lain.  (Sumber : Prisdiminggo)

Pegang Teguh Al-Qur’an Dan Sunnah, Kalian Tidak Akan Tersesat

Maraknya aliran sesat yang terus bermunculan di Indonesia membuat sejumlah kalangan prihatin terlebih para penuntut ilmu syar’i yang belajar di Saudi Arabia. Mulai dari munculnya Ahmadiyah, Inkar Sunnah, Al-Qiyadah Islamiyah, Lia Eden, Millah Abraham, dan yang terakhir sedang trend adalah NII. Menanggapi hal tersebut, salah seorang pelajar di tanah suci Makkah Mukarromah yang juga pemilik blog sahlanarab.blogspot.com menyatakan dengan tegas bahwa banyak kaum muslimin yang menjadi pengikut aliran sesat tersebut dikarenakan saat ini ummat Islam tidak berpegang teguh kepada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.

” Ummat Islam saat ini banyak yang mengikuti aliran-aliran sempalan yang menodai ajaran islam tersebut dikarenakan karena banyak diantara kita yang tidak berpegang teguh dengan pedoman kita yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.” jelas Sahlan.

Sahlan juga menyitir hadits Rasululloh saw yang berbunyi ” Aku tinggalkan dua perkara, yang apabila kalian berpegang teguh terhadap keduanya maka kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnahku.” (Al-hadits). Dia juga menjelaskan bahwa munculnya aliran -aliran sesat itu karena ulah musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam dari dalam.

” Saya yakin betul, bahwa aliran-aliran sesat ini merupakan bagian daripada propaganda musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam dari dalam. Karena di dalam Al-Qur’an itu sudah jelas dinyatakan musuh Islam tidak akan pernah senang sampai ummat Islam mengikuti ajaran mereka.”ungkap pelajar yang menuntut ilmu di Ma’had Harom ini.

Ditanya mengenai bom bunuh diri yang terjadi di sebuah masjid di Cirebon, ia mengutuk keras peristiwa tersebut karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan biadab yang melanggar nilai-nilai keislaman terlebih yang dibom adalah jama’ah sholat jum’at.

” Kami sangat prihatin terhadap peristiwa yang terjadi di Cirebon, karena itu merupakan pelanggaran syari’at apalagi yang dibom itu jama’ah sholat jum’at. Oleh karena itu kami berharap kepada pihak yang berwajib untuk segera menemukan pelakunya dan bagi ummat Islam, jangan mudah terprovokasi.” ungkapnya dengan nada tinggi.

Lalu apa harapan dari para pelajar yang sedang menuntut ilmu syar’i di Makkah Mukarromah ini? Dengan tegas, Sahlan Rafiqi menyatakan harapannya agar para ulama di Indonesia khususnya MUI meningkatkan kualitas dakwahnya dan mengaharapkan ketegasan dari pemerintah soal aliran sesat ini. Sahlan juga berpesan kepada ummat Islam agar senantiasa memegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah agar tidak tersesat . ( Rizal/ MTZone)

Profil MTs Maraqitta’limat Bongor

 Diposting oleh mtsmaraqittalimatbongor.blogspot.com
Sejarah Berdirinya MTs Maraqitta’limat Bongor
Yayasan Maraqitta’limat adalah salah satu organisasi Islam di Lombok yang  berpusat di Desa Mamben Kecamatan Aik Mel Kabupaten Lombok Timur, sebagai  organisasi keagamaan Islam, Maraqitta’limat memiliki kegiatan utama dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah islamiyah.
Pondok Pesantren Yayasan Maraqitta’limat didirikan pada tanggal 1 Januari 1952 oleh TGH.M.Zainuddin Arsyad. TGH.M.Zainuddin Arsyad merupakan salah seorang ulama kharismatik di pulau Lombok yang ikut andil dalam memberantas kebodohan di Nusa Tenggara Barat. Berbeda dengan pesantren yang lain, Maraqitta’limat memiliki beberapa buah cabang di seluruh wilayah pulau Lombok. TGH.M.Zainuddin Arsyad meninggal pada tanggal 4 Februari 1991 dan dimakamkan di Pekuburan Umum Mamben Lauk.
Hingga saat ini Ponpes Maraqitta’limat yang berpusat di Desa Mamben Lauq Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur ini dipimpin oleh putra beliau yang ketiga yakni TGH.Hazmi Hamzar.TGH.Hazmi Hamzar merupakan salah seorang anggota DPRD NTB periode 2009. Di tengah kepemimpinan beliau Maraqitta’limat berkembang pesat.

Wawancara Dengan Drs.TGH. Hazmi Hamzar

Yamtia Miliki Dua Program Besar Tahun 2011

NTB (suarakomunitas.net) – Memasuki usia yang ke 59 tahun 2011, Yayasan Maraqitta’limat (Yamtia) berakte Notaris Nasional ini, memiliki dua program besar yaitu pendirian rumah sakit dan pasar induk pondok pesantren (pontren).

Demikian dikatakan Pembina sekaligus pimpinan pusat Yamtia, TGH. Hazmi Hamzar, ketika ditemui suarakomunitas di komplek pontren Yamtia di Desa Mamben Lauq Kabupaten Lombok Timur. Berikut hasil wawancara suarakomunitas.net (SK) dengan TGH. Hazmi Hamzar (TGH) pimpinan pontren Yayasan Maraqitta’limat (Yamtia) NTB.
Baca lebih lanjut

Menuntut Ilmu Di Makkah Mukarromah

Oleh : Rafiq Jauhary (rafiqjauhary.worpress.com)

belajar di makkahtholabul ilmi fi makkah

menjadi sebuah pusat peradaban islam, pastilah membuat makkah menjadi kota buruan pelajar islam di dunia. terpaan angin panas bercampur debu pasir dari gurun dan sengatan udara dingin tidak akan melunturkan impian nikmatnya belajar dihadapan ka’bah, kiblat sholat ummat muslim sedunia.

untuk menyambut banyaknya pelajar yang berdatangan, para ulama mendirikan beberapa sekolah yang bertebaran di segala pelosok makkah. mulai dari yang berbentuk universitas, ma’had (pesantren), sekolah, mulazamah (home schooling), dauroh (kuliah singkat), sampai halaqoh (kajian umum).

pelajar yang berdatangan

pelajar yang berdatangan pun berasal dari berbagai negara. kebanyakan dari mereka datang dari negara-negara di afrika, seperti sudan, ethiopia, burkina faso, dan lain lain. pelajar dari indonesia pun banyak yang datang ke makkah, bahkan lebih banyak dibanding negara lain disekelilingnya, seperti malaysia dan kamboja . kebanyakan dari pelajar indonesia menyerbu tempat mulazamah, selain lebih mudah, juga pelajaran yang didapat lebih banyak dengan kurikulum yang lebih padat. sehingga memungkinkan pelajar mendapatkan ilmu lebih banyak dibanding tempat lainnya.

visa

dari sekian banyak sekolah yang ada, tidak semuanya dapat mengeluarkan visa pelajar. sehingga pelajar harus mencari solusi sendiri untuk mendapatkan visa.

kebanyakan dari pelajar menggunakan visa kerja untuk belajar di makkah. walaupun persayaratan dan kendalanya banyak, visa kerja cukup efektif digunakan untuk belajar.

bagi pelajar putri, disaratkan membawa mahrom atau wali ketika belajar di makkah.

iklim dan suhu udara

berada di negara sub tropis menjadikan makkah memiliki suhu udara yang cukup drastis perubahannya. musim dingin dapat menjapai 15 derajat celcius, dan ketika musim panas dapat mencapai 40 derajat celcius. namun jika dibandingkan dengan kota disekelilingnya (madinah, jeddah, thoif, riyadh) dan negara disekelilingnya (yaman, mesir). makkah masih lebih stabil.

setidaknya inilah kelebihan makkah seperti yang banyak didapatkan di sisi lain.

sekolah-sekolah

  1. ummul quro university
  2. darul hadits alkhoiriyah
  3. darul hadits alghomidy
  4. ma’had harom al makky
  5. ma’had shoulatiyah
  6. ma’had robithoh alam islamy

halaqoh-halaqoh besar, diantaranya:

  1. syaikh abdurrohman ajlan
  2. syaikh ali adam
  3. syaikh sitr
  4. syaikh ahmad sa’ad hamdan al-ghomidy

MI Maraqitta’limat Panggung Tingkatkan Life Skill Siswa

Lombok Utara ( Maraqitta’limat News) – Madrasah Ibtida’iyah Maraqitta’limat ( MI-MT ) Panggung Desa Selengen Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara, mulai minggu ini, mengadakan pelatihan keterampilan  ( life skill ) bagi siswanya. Kegiatan ini, dilakukan untuk mengisi mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok).

Bentuk keterampilan yang diajarkan ke anak didik antara lain, keterampilan membuat pot bunga, keterampilan membuat bunga dari kertas, keterampilan membuat inke (piring yang dibuat dari batang lidi ),dan beberapa jenis keterampilan lainnya.

Pelatihan Keterampilan ini  dibimbing para  guru  bidang study Mulok dan Keterampilan Tangan dan Kesenian ( KTK ) dengan tenaga pendidik Sahroni, serta melibatkan guru Mts. MT Lenggorong  Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan, Asri, S.Pd sebagai pendamping.

“Anak-anak mesti kita bekali dengan berbagai  keterampilan guna mempersiapkan mereka sebagai generasi penerus bangsa. Alat – alat yang  di pakai pelatihan sudah kita persiapkan dari Madarsah Lenggorong. Ia, kita pinjam dululah sebelum kita mampu membeli “kata Sahroni.

Sementara, Musta’in, S.Pd, kepala MI-MT Panggung  mengatakan,  pelatihan keterampilan ini akan besar mamfaatnya bagi perkembangan kecerdasan kognitif, kecerdasan afektif, dan kecerdasan psikomotorik anak didik.(Sabran/Ari)

Catatan Kritis Adian Husaini III : Film ‘?’ Maunya Apa?

Sosok lain yang secara dominan ditampilkan dalam   Film “?”adalah seorang bernama Surya. Ia  seorang laki-laki Muslim, berprofesi sebagai aktor figuran.  Dia berteman dengan Rika. Karena miskin, ia terusir dari rumah kosnya. Lihatlah, dalam film ini, Ibu Kos yang “bakhil” itu ditampilkan dalam sosok berjilbab, dan mengajari anak Rika agar membaca buku-buku Islam!

Surya  memuji-muji Rika telah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Mereka berkawan akrab. Surya ditampilkan sebagai sosok yang polos, kocak dan naif.  Untuk uang, dan mungkin untuk mempertontonkan fenomena “kerukunan umat beragama”,  Surya menerima tawaran Rika agar berperan sebagai Yesus. Ia rela beradegan – seolah-olah — dipaku di tiang salib di sebuah Gereja Katolik saat perayaan Paskah. Pada kali lain, ia berperan sebagai Santa Claus. Sebagian jemaat Gereja sempat memprotes sosok Yesus diperankan seorang Muslim. Terjadi perdebatan. Muncul Pastor yang menyetujui penunjukan Surya sebagai tokoh Yesus.

Seperti halnya Rika, tampaknya sosok Surya ditampilkan sebagai representasi fenomena toleransi dan “kerukunan”.   Setelah merelakan dirinya berperan sebagai Yesus, Surya kembali ke masjid membaca surat al-Ikhlas, sebuah surat dalam al-Quran yang menegaskan kemurnian Tauhid. “Katakan, Allah itu satu. Allah tempat meminta. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” Allah itu satu! Allah tidak punya anak! Ini gambaran dalam Film “?” karya Hanung ini.

Padahal, surat al-Ikhlas seperti mengoreksi doktrin pokok dalam agama Kristen, yang dirumuskan sekitar 300 tahun sebelumnya, di Konsili Nicea (325 M), sebagaimana disebutkan dalamNicene Creed:   “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa…” (Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja).

Padahal, al-Quran sudah menjelaskan: “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).” (QS 61:6). Dalam al-Quran, ada cerita Lukmanul Hakim yang menesehati anaknya: “Syirik adalah kezaliman besar.” (QS 31:13).

Nabi tidak menyatakan, “Semua agama sama-sama jalan yang sah menuju Tuhan!”   Bahkan, ada perintah al-Quran dalam surat al-Kafirun (109): “Katakan, hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah! Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah! Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah! Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah!”

Dalam Tafsirnya, Al-Azhar, Prof. Hamka menjelaskan, asbabun nuzul surat al-Kafirun ini berkaitan dengan tawaran damai empat tokoh kafir Quraisy yang resah dengan dakwah Tauhid Nabi Muhammad saw. Mereka adalah al-Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umaiyah bin Khalaf. Mereka mengajukan usulan: “Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah….”

Baca lebih lanjut

Catatan Kritis Adian Husaini II :Film ‘?’ Apa Maunya?

Syahdan, para pemikir ateis, seperti Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, Jean Paul Sartre dan sejenisnya, terkenal dengan gagasan-gagasan yang memandang agama dan Tuhan sudah tidak diperlukan lagi di era zaman modern ini.  Mereka beramai-ramai mempermainkan Tuhan.

Jean-Paul Sartre (1905-1980) menyatakan: “even if God existed, it will still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom.” (Karem Armstrong, History of God, 1993). Thomas J. Altizer,   dalam “The Gospel of Christian Atheism” (1966) menyatakan: “Only by accepting and even willing the death of God in our experience can we be liberated from slavery…”(Karen Armstrong, History of God)

Friedrich Nietzsche, dalam karyanya, Also Sprach Zarathustra, mengungkap gagasan bahwa “Tuhan sudah mati”. Karena Tuhan sudah mati, dan tidak diperlukan lagi, Nietzsche berpendapat, “Kepercayaan adalah musuh yang lebih berbahaya bagi kebenaran, dibanding kebohongam.”  Nietzsche ingin bebas dari segala aturan moral, ingin bebas dari Tuhan. Ujungnya, pada 25 Agustus 1900, ia mati setelah menderita kelainan jiwa dan penyakit kelamin. (Lihat, B.E. Matindas,Meruntuhkan Benteng Ateisme Modern, 2010).

Jika direnungkan secara serius,  Pluralisme Agama sejatinya bisa begitu dekat dengan ateisme. Ketika orang menyatakan, “semua agama benar”, sejatinya bersemayam juga satu ide  dalam dirinya, bahwa “semua agama salah”.  Sebab, “Tuhan” (God), yang dipersepsikan kaum Pluralis adalah Tuhan yang abstrak.

Tuhan kaum Pluralis adalah Tuhan dalam angan-angan, yang boleh diberi nama siapa saja, diberi sifat apa saja, dan cara menyembahnya pun  boleh suka-suka. Kapan suka disembah, kapan-kapan tidak suka, bisa diganti dengan Tuhan lain.

Cara menyembah Tuhan, menurut mereka, juga sesuka selera manusia. Bosan dengan cara satu, bisa diganti dengan cara lain. Sebab, dalam konsep mereka, tidak ada satu cara yang pasti benar dalam ibadah, sesuai petunjuk seorang Nabi. Jika semua jenis “Tuhan” itu diangga sama saja, maka “Tuhan” yang mana yang disembah kaum Pluralis?

Jadi, saat  seorang yang mengaku Pluralis  berkata, “Semua agama menyembah Tuhan yang sama”, maka secara hakiki, dia telah berdiri di luar Islam.  Sebab, dia tidak lagi menuhankan Allah.  “Tuhan”, baginya, bisa siapa saja, berupa apa saja, dan berwujud apa saja. Bisa disebut Yehweh, bisa Allah, bisa Yesus, bisa Brahmin, dan bisa juga Iblis!  Yang penting dikatakan “Tuhan”, yang penting God!  Padahal, seorang Muslim sudah mengikrarkan syahadat: “Tidak ada Tuhan selain Allah”.

Meskipun menyebut Tuhan mereka dengan “Allah”, tetapi  kaum Quraisy ketika itu dikatakan sebagai “musyrik”,  sebab mereka menyekutukan Allah dengan Tuhan-tuhan lain.  Allah hanyalah salah satu dari Tuhan-tuhan mereka; bukan Tuhan satu-satunya. Sebutan bisa sama, yakni “Allah”, tetapi konsepnya  berbeda-beda.  Sebagian  besar kaum Kristen di Indonesia menyebut juga Tuhan mereka dengan sebutan “Allah”, tetapi konsepnya berbeda dengan “Allah” dalam Islam.

Lain lagi dengan aliran  “Darmogandul” di Tanah Jawa, yang mengartikan Allah dengan “ala” (bahasa Jawa, artinya jelek). Dalam salah satu  bait Pangkur-nya, Kitab Darmogandul, menyatakan: “Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan masin.”

Jadi, Tuhan yang mana yang disembah kaum Pluralis?  Jika Tuhan apa pun sama saja, lalu apa artinya Tuhan bagi mereka?  Ujung-ujungnya bisa jadi: Tuhan tidak penting! Sebab, dalam pandangan kaum ini, Tuhan yang sejati (Allah), atau manusia, atau setan dianggap sama saja. Semua bisa menjadi Tuhan dan dituhankan.  Ujung-ujungnya, Tuhan dianggap tidak penting. Bandingkan dengan sosok Sigmund Freud, psikolog dan salah satu perintis ateisme modern, yang berteori bahwa “Bertuhan, hanyalah wujud gejala penyakit jiwa infantilisme (penyakit kekanak-kanakan). (B.E. Matindas, ibid).

Ketidakjelasan posisi teologis kaum Pluralis Agama, digambarkan oleh Dr. Stevri Lumintang, seorang pendeta Kristen di Malang,  dalam bukunya, Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004).

Dicatat dalam ilustrasi sampul buku ini, bahwa Teologi Abu-Abuadalah posisi teologi kaum pluralis ; bahwa teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama.

Ditegaskan dalam buku ini: ‘’Inti Teologi Abu-Abu (Pluralisme) merupakan penyangkalan terhadap intisari atau jatidiri semua agama yang ada. Karena, perjuangan mereka membangun Teologi Abu-Abu atau teologi agama-agama, harus dimulai dari usaha untuk menghancurkan batu sandungan yang menghalangi perwujudan teologi mereka. Batu sandungan utama yang harus mereka hancurkan atau paling tidak yang harus digulingkan ialah klaim kabsolutan dan kefinalitas(an) kebenaran yang ada di masing-masing agama.’’

Baca lebih lanjut

Catatan Kritis Adian Husaini 1 : Film’?’ Apa Maunya?

“Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.” (Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar).

Perlu digarisbawahi, saat menonton film “?” (Tanda Tanya) pada tayangan perdana, 6 April 2011 lalu, saya adalah seorang Muslim. Saat memberikan komentar dan memberikan catatan kritis ini, saya juga tetap Muslim, dan saya menggunakan perspektif Islam dalam menganalisis film “?”. Sebagai Muslim, saya telah berikrar: Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Dengan syahadat Islam itu, saya bersaksi, saya mengakui, bahwa Tuhan saya adalah Allah. Tuhan saya bukan Yahweh, bukan Yesus, bukan Syiwa. Tuhan saya Satu. Tuhan saya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Saya mengenal nama dan sifat Allah bukan dari budaya, bukan dari hasil konsensus, tapi dari al-Quran yang saya yakini sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, sejak dulu, dan sampai kiamat, saya dan semua orang Muslim memanggil Tuhan dengan nama yang sama, Allah, yang jelas-jelas berasal dari wahyu.

Sebagai Muslim, saya yakin, bahwa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah sebagai nabi terakhir. Sebagaimana para nabi sebelumnya – seperti Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. – inti ajaran Nabi Muhammad saw adalah Tauhid, yaitu mensatukan Allah. Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia (QS 34:28), bukan hanya untuk bangsa atau kurun tertentu.

Itu artinya, kebenaran Islam, bukan hanya berlaku untuk orang Islam, tetapi berlaku untuk semua manusia.  Syariat Nabi Muhammad saw saat ini adalah satu-satunya syariat yang sah untuk seluruh manusia. Cara beribadah kepada Allah – satu-satunya – yang sah hanyalah dengan syariat Nabi Muhammad saw. Jalan yang sah menuju Tuhan hanyalah jalan yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Akal saya tidak bisa menerima satu logika, yang menyatakan, bahwa Allah telah menurunkan Nabi-Nya yang terakhir, dan kemudian Allah SWT membebaskan manusia untuk memanggil nama-Nya dengan nama apa pun, sesuai dengan selera manusia. Juga, tidak masuk di akal saya, pendapat yang menyatakan, bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk menyembah-Nya dengan cara apa pun, sesuai dengan kreativitas akal dan hasrat nafsu manusia.

Saya yakin, sesuai QS 3:19 dan 3:85, bahwa Allah hanya menurunkan satu agama untuk seluruh Nabi-Nya, yakni agama yang mengajarkan Tauhid (QS 16:36). Jika satu agama tidak mengajarkan Tauhid, pasti bukan agama yang diturunkan Allah untuk para Nabinya; dan pasti merupakan agama budaya (cultural religion).

Itu keyakinan saya sebagai Muslim. Dan itu konsekuensi logis dari syahadat yang saya ikrarkan!
Baca lebih lanjut

Pro-Kontra Misi Kenabian Mirza Ghulam Ahmad

Lombok Timur (suarakomunitas.net) – Selama ini, umat Islam percaya bahwa Muhammad SAW merupakan nabi khotamunnabiyyin (nabi terakhir) dan la nabiyya ba’dahhu (tidak ada nabi setelah beliau). Namun, kalangan Akhmadiyah justru mempercayai misi kenabian dari Mirza Gulam Akhmad sehingga menimbulkan pro-kontra di umat Islam.

Demikian dikemukakan Gubernur NTB, TGH. Zainul Madjdi, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama, H. lalu Suhaimi Ismy, pada Hari Ulang Tahun Yayasan Maraqitta’limat yang ke 59 di Desa Mamben, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur.

Terkait dengan hal tersebut, lanjut Zainul Madjdi, pemerintah daerah dengan Majlis ulama Indonesia (MUI) NTB serta para alim ulama di daearah ini meminta, untuk tetap berpegang teguh kepada aqidah Islam, juga secara teknis harus tetap berpedoman kepada Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.

Di sisi lain, gubernur menjelaskan peringatan HUT bagi lembaga apapun namanya, senantiasa memiliki makna yang penting untuk melihat kilas balik perjalanan lembaga tersebut, tidak terkecuali Pondok Pesantren Maraqitta’limat.

“Hakikat peringatan HUT tidak terletak pada meriahnya serimonial belaka, tapi yang terpenting adalah bagaimana jajaran pimpinan dan seluruh pengurus, melakukan perenungan, mawas diri, dan mau mengevaluasi pelbagai keberhasilan maupun kegagalan dalam masa yang telah lalu,” tegasnya.

Bagi Madjdi, keberhasilan yang telah diraih sudah tentu sesuatu yang membahagiakan, namun dengan keberhasilan tersebut tidak lantas berpuas diri. Demikian juga halnya dengan kegagalan, harus mampu diidentifikasi yang selanjutnya dicarikan jalan keluar pemecahannya.

Satu hal yang patut kita banggakan, lanjutnya, adalah keberadaan pondok pesantren Maraqitta’limat, telah cukup membantu pemerintah khususnya dalam memerangi kebodohan di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Kiprah dan tanggung jawab untuk memajukan umat seperti inilah yang diharapkan muncul dari setiap lembaga pendidikan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Pondok Pesantren Yayasan Maraqitta’limat,” jelasnya.

Gubernur berharap kepada pengurus Yayasan Maraqitta’limat tidak cepat berpuas dirii, melainkan terus mencurahkan perhatian dan terus berkarya dalam rangka mendorong umat untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dengan dorongan keihlasan yang tinggi dan semangat yang sungguh-sungguh, Insya Allah kehidupan umat ini akan lebih baik dan lebih sejahtera di masa-masa yang akan datang. (M. Syairi)