Perkembangan Lembaga Pendidikan Maraqitta’limat Di Dayan Gunung

Lambang Yayasan Maraqitta'limat

Lombok Utara – Maraqitta’limat (MT) merupakan sebuah yayasan keagamaan yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Di bidang dakwah, Maraqitta’limat yang berarti tangga pendidikan tersebut memiliki puluhan majlis ta’lim yang berkembang dan diisi secara rutin oleh para tuan guru dari yayasan MT. Demikian juga dalam bidang sosial, MT memiliki 1 buah panti asuhan dan puluhan asuhan keluarga di Kabupaten Lombok Utara atau dikenal dengan sebutan Dayan Gunung.

Kemajuan yayasan MT di bidang pendidikan di KLU cukup membanggakan, karena dalam sepuluh tahun terakhir ini, telah berdiri puluhan lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Cukup pas, bila yayasan yang didirikan oleh almarhum, TGH. M. Zainuddin Arsyad ini ikut perperan serta memajukan dan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah “Paer Daya”.

Beberapa sekolah yang berada dibawah naungan yayasan MT, di Kecamatan Kayangan, antara lain, MI dan MTs MT Dusun Sidutan Desa Kayangan, MTs MT Santong Desa Santong, MI MT Panggung Desa Selengen.
Baca lebih lanjut

Menelusuri Jejak Dakwah TGH.M.Zainuddin Arsyad (Catatan Lengkap)

Masa Kecil
Mungkin tidak banyak yang mengenal sosok seorang ulama sufi ini, tetapi tidak bisa dipungkiri ulama inilah yang juga telah banyak berjasa dalam mengembangkan ajaran Islam di pulau Lombok.
Dialah Muhammad Zainuddin, nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya sejak lahir sekitar tahun 1912 di Desa Mamben Lauq, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur-NTB. Ayah beliau bernama TGH. Arsyad, yang saat itu menjadi penghulu (tokoh agama. Dan ibunya bernama Inaq Makenun. Kehidupan keluarga beliau cukup sederhana dan agamis.

TGH.M. Arsyad, selain sebagai seorang tokoh agama, juga pada waktu itu sangat gigih menentang penjajahan Jepang di Indonesia. Sehingga beliau bersama santrinya memimpin langsung penyerangan ke markas Jepang yang terletak di Wanasaba-Lombok Timur, yang menyebabkan salah seorang santrinya gugur di medan pertempuran.

Seperti kebanyakan anak lainnya, beliau tumbuh dan berkembang secara wajar. Dari masa kanak-kanak, Zainuddin kecil dalam pergaulannya sehari-hari selalu mencerminkan sifat-sifat terpuji, hormat terhadap orang yang tua, dan sopan kepada sesama. Tidak heran, ketika masa kecilnya banyak orang yang sayang pada dirinya.

Karena mendapat pendidikan agama sejak dini, membuat sifat dan sikap kepemimpinannya sudah mulai nampak terutama dalam pergaulannya sehari-hari, sesuai dengan ajaran agama Islam yang diyakini kebenarannya.

Ketika usia Zainuddin menginjak empat tahun, beliau diasuh oleh Amak Ismail dan Inaq Isah yang sekaligus sebagai orang tua angkatnya. Karena pada saat itu, kedua pasangan ini belum dikaruniai seorang anak. Kendati demikian, Zainuddin kecil sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.

Berada di buaian dan belaian kasih sayang orang tua angkat, tidak serta merta beliau di lepas begitu saja oleh TGH.M. Arsyad. Dengan penuh rasa kasih sayang, beliau dididik dengan ajaran agama. Sehingga orang tua beliau memiliki peran ganda, yaitu disatu sisi sebagai orang tua, dan disisi lain sebagai sosok guru yang sangat dihormati.

Mendapat pendidikan dari sang ayah yang cukup disiplin, membuat sosok Zainuddin kecil cukup cerdas, jujur, rendah hati baik budi pekertinya dan semakin nampak jiwa kepemimpinannya, walaupun diusia yang masih belia.

Menuntut Ilmu ke Negeri Makkah

TGH. M. Arsyad sendiri memiliki beberapa orang putra dan putrid. Salah satu diantaranya adalah Muhammad Zainuddin, yang ketika menginjak usia 6 tahun, atau sekitar tahun 1920, sang ayah dan bunda memutuskan untuk mengirim anaknya ke Makkah Al-Mukarromah untuk menimba ilmu agama. Keberangkatan beliu menuju Makkah didampingi oleh ayahanda TGH. M. Arsyad. Konon, beliau sempat digendong oleh orang tuanya ketika berangkat meninggalkan rumahnya menuju Makkah Al-Mukkaromah.
Baca lebih lanjut

Ketika Do’a Kiai Tak Lagi Mustajab

Belum pernah terjadi sebelumnya. Di mana berlangsung istighosah di sebuah pondok pesantren yang dipimpin para ulama dan kiai, mendo’akan tim sepak bola Garuda Indonesia agar menang melawan tim sepak bola Malaysia. Tetapi do’a itu tidak mustajab. Allah Azza Wa Jalla tidak menginstijabahi (mengabulkan) do’a para kiai. Tim Garuda Indonesia kalah.

Di Pondok Pesantren As-Shidiqiyah, berlangsung istighosah, di mana tampil Kiai Nur Iskandar SQ, Yusuf Mansur, dan sejumlah kiai dan ulama lainnya, ikut hadhir dalam acara itu. Ribuan santri dan santriwati, melakukan wirid dan do’a bersama para kiai yang dipimpin Kiai Yusuf Mansur. Mereka membacakan do’a agar tim sepakbola Indonesia menang malawan Malaysia. Sebuah pragmen yang tak pernah terjadi sebelumnya, di mana para kiai mendoakan sepakbola. Acara itu disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi.

Akhir-akhir ini sesudah berbagai bencana menimpa bangsa ini, dan peristiwa politik, serta hukum, yang tak habis-habis, berlangsung kompetisi sepak bola yang merebutkan piala AFF, yang diselenggarakan oleh Suzuki. Sepakbola ini dieksploitir sedemikian rupa, melalui semua media, terutama telivisi. Emosi rakyat yang sudah ambruk akibat berbagai peristiwa ini, di aduk-aduk, sampai menggelegak, dan dikaitkan dengan nasionalisme, saat berlangsung final melawan Malaysia. Sangat luar biasa liputan media telivisi dan media cetak terhadap peristiwa sepak bola ini.

Rakyat yang sudah terhimpit oleh berbagai kepenatan hidup dan bencana, berhasil digiring dan dialihkan kepada sepakbola.

Semua elemen bangsa diarahkan untuk memberikan dukungan kepada tim Garuda Indonesia. Presiden SBY, Ibu Ani, para pejabat negara, anggota legislatif, menteri, dan para kepala lembaga tinggi negara, termasuk Ketua MK Mahfud MD, ikut memberikan dukungan tim sepak bola Indonesia. Setidaknya enam menteri yang ikut menyaksikan langsung  pertandingan final di Malaysia.

Baca lebih lanjut

Pemuda Islam

حْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14)

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk. 14.  Dan kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri[1]) lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya kami kalau demikian Telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. QS Al-kahfi ayat : 13-14

Islam ditegakkan oleh para pemuda, para sahabat kebanyakan juga para pemuda, Nabi Ibrahim waktu menghancurkan berhala dan dihukum bakar dalam usia belia, Tidak sedikit di antara para imam fuqaha mencapai derajat imamah pada usia muda, Imam Syafi dapat rekomendasi untuk jadi mufti dalam usia 17 tahun, imam Haramaini Al-Juwaini guru Imam Ghazali dalam usia 20 tahun sudah menjadi imam di Makkah dan Madinah, Imam Bukhari mengarang kitab Tarikhul Al-kabir yang terdiri dari delapan jilid dan menjadi rujukan utama dalam ilmu hadits juga pada usia 18 tahun.

Jadi Pemuda tidak mesti identik dengan dunia nakal dan kekanak kanakan, atau dunia foya foya, melainkan dapat didesain menjadi pemuda ahli sorga, pemuda yang akan mendapatkan naungan Allah yang tidak ada naungan kecuali naunganNya seperti dalam hadits riwayat imam Bukhari dari Ashabus Sunan dan diriwayatkan oleh Abu hurairah, Umar Bin khattab dan beberapa sahabat, bahwa Rasulullah pernah bersabda : tujuh orang akan dinaungi Allah yang tidak ada naungan kecuali naunganNya, Imam yang adil, kedua: pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah kepada Allah.

Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, dan berjuang dalam menegakkan kalimat Allah, mendapat naungan Allah, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. seperti ashabul kahfi yang lantang menentang kebatilan kesyirikan, sekaligus menda’wahi raja yang dhalim kepada tauhid, yang karena ketegaran mereka Allah swt menjadikan mereka mu’jizat Allah, mereka tidur selama 309 tahun Qamariyah atau 300 tahun Syamsiyah.

Pemuda merupakan asset energi perjuangan di setiap zaman, jika kebanyakan pemuda pada zaman ini banyak terperosok dalam kehidupan hedonisme, glamor, pergaulan bebas, free sex, sejatinya bukan karena tabiatanya yang rusak, akan tetapi lebih dikarenakan kegagalan tarbiyah orang tua dan masyarakat kepada mereka, terutama gagal dalam membangun idealis yang tinggi yang menjadi magnet untuk menarik seluruh perhatian hidupnya dalam merealisasikannya. Maka membangun pemuda yang kuat aqidahnya, tinggi cita citanya, tangguh akhlaqnya, kuat ilmunya, menjadi teladan dan motor penggerak kaumnya harus menjadi prioritas utama pembangunan nasional, Rasulullah saw bersabda dalam hadits :

عَنْ عُقْبَةَ بن عَامِرٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:”إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ”.

Dari Uqbah bin ‘Amir sesungguhnya Nabi saw bersabda : sesungguhnya Allah kagum terhadap pemuda yang tidak mengalami kekanak kanakan. (HR Thabarani, dan Imam Ahmad)

Baca lebih lanjut

DR Muinudinillah Basri : Jangan Terlena Kepentingan Politik Sesaat

DR.H.Mu'inuddinillah Basri,MA

Sejatinya, peran partai politik Islam dalam penegakkan syariat di Indonesia masih efektif. Begitulah keyakinan Mu’inudinillah Basri, seorang ahli syariah lulusan Universitas King Ibnu Saud, Arab Saudi.
Lalu mengapa peran partai politik Islam saat ini masih mandul? Menurut Mu’in, sapaan akrab Mu’inudinillah Basri, ini terjadi karena sistem kita sudah terlanjur busuk.

Selain itu, katanya lagi, tak sedikit aktifis Islam yang terpengaruh oleh kepentingan politik sesaat. ”Ini akan naif.” kata Ketua Program Pascasarjana Magister Studi Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta, ini.
Mu’in bisa berpendapat seperti itu karena sesungguhnya ia orang partai meski tak secara langsung mencemplungkan diri dalam kancah politik praktis. Ia salah seorang anggota Dewan Syariah Pusat (DSP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bertugas mengontrol program yang dijalankan partai.

Selama ini Mu’in telah mengambil sikap sebagai orang yang bergerak hanya di ranah “politik moral”. Artinya, keterlibatannya dalam partai cuma sebagai dai dan pembimbing syariah. “Saya ini dai, terbuka untuk seluruh partai. Partai mana saja yang ingin bimbingan syariah, akan saya bantu,” tegas pria asal Solo dan alumni LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), Jakarta, ini.

Mu’in pernah menawarkan bantuan kepada Partai Bulan Bintang (PBB) untuk pembinaan syariah. Ia juga pernah menawarkan hal yang sama kepada pengurus Partai Amanah Nasional (PAN). Ia tak menolak memberikan masukan kepada Hizbut Tahrir atau Hidayatullah sebagai sebuah harakah.

Mu’in juga membina kader. Namun, bukan semata untuk kepentingan partai atau harakah, melainkan untuk mencetak para dai yang mumpuni. Ia sadar, tujuan pembinaan kader tak boleh bersandar kepada tujuan yang sempit, namun demi sesuatu yang besar, yakni tegaknya dakwah Islam di bumi Pertiwi.

Kepada wartawan Suara Hidayatullah, Bahrul Ulum dan Khoirul Ahmad, mantan Direktur Pesantren As-Salam, Surakarta, ini berbicara banyak tentang hubungan politik praktis dengan tegaknya syariah. Perbincangan dilakukan di rumahnya di Surakarta pada pagi hari dalam suasana santai sambil sarapan pagi.

Baca lebih lanjut

Pentingnya Pendidikan Anak

H Sahlan Rafiqi Sasaky

Allah swt berfirman dalam surat An-Nisaa ayat 9 : “Dan hendaklah takut kepda Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Secara khusus ayat di atas berkaitan dengan waris. Para orangtua dilarang meninggalkan anak keturunannya tak berharta lalu kemudian terhina dengan menjadi peminta-minta. Islam jelas melarang keras umatnya menghinakan diri seperti itu. Umat Islam diharuskan mandiri, produktif dan pemberi sebagaimana adanya kewajiban zakat, infaq dan sodaqoh.

Namun secara umum ayat ini berkaitan dengan hal yang lebih luas, tidak hanya berbicara tentang waris (harta) tetapi juga yang lainnya. Orangtua diharuskan khawatir meninggalkan (mewariskan) kepada anak cucunya dhu’afa (kelemahan) dalam beberapa hal di antaranya :

1. Lemah harta kekayaan. Seperti telah dijelaskan di atas, Islam mengharuskan umat untuk mewariskan harta kekayaan kepada keturunannya. Namun Islam adalah agama yang pertengahan (wasithiyah), seimbang sesuai fithrah insaniyah. Islam bukan agama yang mengharamkan umat memiliki harta, bukan juga agama yang memerintahkan umat untuk mendewakan harta dan menghambakan dirinya kepada harta. Tidak ada larangan dalam Islam untuk memiliki harta, Selama harta itu membuat pemiliknya semakin mendekatkan diri kepada Allah swt.

Baca lebih lanjut

Renungan Soal Ucapan Selamat Natal

Oleh : Ustadz Ihsan Tandjung

Sungguh kondisi sebagian ummat Islam dewasa ini sudah sangat memprihatinkan. Betapa tidak, Allah di dalam Kitabullah Al-Quranul Karim jelas-jelas memerintahkan kita untuk mengajak Ahli Kitab (yakni kaum penganut Yahudi dan Nasrani) agar hanya menyembah Allah semata, namun dalam realitanya justeru tidak sedikit ummat Islam yang setiap tahun ketika memasuki bulan Desember malah berbondong-bondong mengucapkan selamat atas perayaan hari Natal. Sudahkah mereka benar-benar merenungi dampak dari ucapan “Selamat Natal” yang mereka layangkan kepada ummat Kristiani tersebut? Mari kita coba mendalami hal ini dengan hati yang tenang dan fikiran yang jernih.

Marilah kita lihat apa yang Allah perintahkan kepada kita ummat Islam di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun.” (QS. Ali Imran [3] : 64)

Jelas di dalam ayat di atas Allah menyuruh kita mengajak kaum Nasrani untuk bertauhid yaitu hanya mengesakan dan menyembah Allah semata dan agar tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun di muka bumi ini. Dan tidak ada seorangpun muslim yang tidak kenal surah Al-Ikhlas —bahkan hafal sejak masih duduk di bangku SD— di mana di dalamnya terdapat firman Allah sebagai berikut:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dia (Allah) tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Allah).” (QS. Al-Ikhlas [112] : 3-4)

Bagi seorang muslim keyakinan bahwa Allah subhaanahu wa ta’aala itu Maha Esa adalah perkara yang sudah selesai dan mantap diyakininya. Allah tidak punya anak dan Allah tidak punya orang-tua. Bahkan tidak ada sesuatupun atau seseorangpun di muka bumi ini, baik di masa lalu, masa kini maupun di masa depan yang bisa dan boleh disetarakan atau diserupakan dengan Allahsubhaanahu wa ta’aala.

Baca lebih lanjut

Hayono Isman :Ahmadiyah Harus Tahu Diri Dan Berhenti Melecehkan Islam

Hayono Isman

MATARAM – Ahmadiyah harus tahu diri dan berhenti melecehkan agama Islam, jika mereka ingin diterima dan bisa hidup berbaur di masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Hayono Isman usai pertemuan koordinasi dengan jajaran Kodam IX/Udayana, di Markas Korem 162/Wira Bhakti, di Mataram, Selasa (21/12/2010).

“Itu yang harus dipahami warga Ahmadiyah. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap hak asasi manusia, ajaran Ahmadiyah itu melecehkan agama Islam sehingga keberadaannya selalu menjadi masalah,” kata Hayono yang juga Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat itu.

Pertemuan koordinasi itu merupakan rangkaian kunjungan kerja (Kunker) Tim Komisi I DPR ke wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) pada masa reses 19-22 Desember 2010.

….ajaran Ahmadiyah itu melecehkan agama Islam sehingga keberadaannya selalu menjadi masalah….

Tim Komisi I DPR itu berjumlah sembilan orang masing-masing empat orang dari Fraksi Partai Demokrat (F-PD) termasuk Hayono Isman selaku pimpinan rombongan, seorang dari Fraksi Partai Golkar (F-PG), tiga orang dari Fraksi PDI Perjuangan (F-PDIP) dan seorang dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS).

Sebelum pertemuan koordinasi dengan satuan TNI, tim Komisi I DPR itu lebih dulu berkoordinasi dengan unsur Pemerintah Provinsi NTB, pada Senin (20/12), dan sempat membicarakan persoalan Ahmadiyah di NTB.

Baca lebih lanjut

Persiapan Sarana Dan Prasarana STKIP Hamzar

Lombok Utara – Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzar yang terletak di Dusun Lokok Aur Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, dari segi fisik baik sarana maupun prasarana sudah siap beroprasi.

Dari segi fisik misalnya, STKIP Hamzar telah memiliki bangunan yang memadai, seperti ruang sekreatariat, computer, perpustakaan dan tiga ruang kuliah, yang dibangun diatas tanah milik yayasan Maraqitta’limat.

Demikian juga dengan prasarana lainnya, sudah dapat dikatakan 99 persen sudah siap, termasuk rektor, puket I-III dan dosen. Ini juga diakui oleh Direktorat Perguruan Tinggi Pusat, ketika berkunjung melihat secara dekat persiapan STKIP Hamzar 22 Desember 2010.

Baca lebih lanjut

Musibah Di Atas Musibah

Ustadz Ihsan Tandjung

Dewasa ini kita sungguh prihatin menyaksikan bagaimana musibah beruntun terjadi di Indonesia, negeri berpenduduk muslim terpadat di dunia. Belum selesai mengurus musibah dua kecelakaan kereta api sekaligus di awal Oktober, tiba-tiba muncul banjir bandang di Wasior, Irian. Kemudian gempa berkekuatan 7,2 skala richter diikuti Tsunami hebat di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Lalu tiba-tiba kita dikejutkan dengan erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah. Belum lagi ibukota Jakarta dilanda banjir massif yang mengakibatkan kemacetan dahsyat di setiap sudut kota, bahkan sampai ke Tangerang dan Bekasi. Siapa sangka banjir di Jakarta bisa terjadi di bulan Oktober, padahal jadwal tahunan rutinnya biasanya di bulan Januari atau Februari..?

Baca lebih lanjut